BELITUNG – Ketua Asosiasi Alam Indonesia Raya (AIR), Wyllianto, S.E., melakukan rangkaian kunjungan lapangan ke sejumlah titik strategis Perhutanan Sosial di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 7-9 April 2026. Didampingi tim perwakilan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI, kunjungan ini bertujuan untuk meninjau keberhasilan tata kelola hutan berbasis masyarakat dan penguatan ekosistem lingkungan.
Ekowisata Digital dan Pelestarian Satwa di Bukit Peramun.
Mengawali agenda pada Selasa (7/4), rombongan mengunjungi HKm Bukit Peramun di Desa Air Selumar. Wyllianto bersama tim Kemenhut melihat langsung jalannya ekowisata berbasis kehutanan yang telah memadukan teknologi digital dengan kelestarian alam.
Langkah rombongan kian bermakna saat berkesempatan menyapa langsung Tarsius, ‘si mata bulat’ langka yang menjadi ikon abadi konservasi Belitung di habitat aslinya. Suasana berubah magis ketika senja mulai merona; rombongan menyesap kopi lokal ditemani legitnya madu asli hutan Bukit Peramun yang masyhur akan kualitasnya. Seluruh kemewahan alam ini dinikmati dari atas dek makan eksotis yang berdiri gagah di ketinggian 129 mdpl, tepat di atas singkapan granit raksasa yang menjadi mahkota puncak Bukit Peramun.
Eksplorasi Mangrove di HKm Seberang Bersatu.
Hari kedua, Rabu (8/4), kunjungan berlanjut ke HKm Seberang Bersatu (Gusong Bugis). Fokus utama di lokasi ini adalah meninjau keberhasilan pembudidayaan mangrove di lahan bekas tambang. Sembari menyusuri mangrove track, Wyllianto dan tim Kemenhut berdiskusi intensif mengenai optimalisasi potensi pengelolaan yang tetap berbasis pada prinsip Perhutanan Sosial agar mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi warga lokal.
Pembekalan M4CR dan Tinjauan Ekosistem di Bangka Tengah.
Pada Kamis (9/4), agenda bergeser ke ibu kota provinsi, Pangkal Pinang. Perwakilan Kementerian Kehutanan, Ariyo Bimmo dan Sigit Widodo, hadir sebagai narasumber dalam acara diskusi Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Keduanya memberikan pembekalan strategis mengenai pentingnya penguatan ketahanan pesisir melalui rehabilitasi mangrove dan keterlibatan aktif masyarakat.
Menutup rangkaian kunjungan, tim didampingi Kepala BPDAS Baturusa Cerucuk menyambangi Kelompok Tani Hutan (KTH) Muncang di Bangka Tengah. Dalam tinjauan lapangan tersebut, rombongan dikagetkan sekaligus terkesan dengan temuan seekor ular berukuran besar yang tampak sehat di area hutan.
“Keberadaan predator seperti ini merupakan indikator biologis bahwa ekosistem di KTH Muncang masih terjaga dengan sangat baik. Rantai makanan berjalan alami, yang artinya fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan masih berfungsi optimal,” ujar Wyllianto di sela kunjungan.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi kelompok-kelompok tani hutan di Bangka Belitung untuk terus berinovasi dalam mengelola wilayahnya secara mandiri namun tetap dalam koridor pelestarian alam yang ketat.


